Menanti Perpustakaan Masuk Desa


Oleh Meksianis Zadrak Ndii

Kedua peristiwa ini hanyalah beberapa contoh dari praktik-praktik memalukan dalam dunia pendidikan Indonesia. Peristiwa tersebut tidak hanya telah menampar dan mempermalukan pendidikan Indonesia, tetapi juga menunjukkan sistem pendidikan belum dapat menghasilkan orang-orang yang produktif dan handal.

Oleh karena itu, saatnya jalan pemecahan perlu dipikirkan. Kasus ini harus dicegah dan akar permasalahannya harus diurai sehingga kasus-kasus semacam ini tidak terulang lagi.


Akar masalah

Penyelesaian terhadap persoalan ini bukan perkara mudah karena masalah ini telah berakar dalam masyarakat kita. Selain itu, penyebab masalah ini sangatlah kompleks. Namun demikian, perlu adanya upaya yang serius dalam mengurai akar masalah sehingga masalah seperti ini tidak terulang lagi.

Salah satu penyebab plagiarisme adalah belum membudayanya kebiasaan baca tulis dalam masyarakat Indonesia. Akibatnya, untuk memenuhi tuntutan administrasi dalam proses sertifikasi ataupun proses lainnya  yang mensyaratkan karya ilmiah atau tulisan-tulisan yang pernah dipublikasikan, jalan pintas seperti plagiarisme adalah pilihan.

Belum membudayanya baca tulis, misalnya, tampak terlihat jelas dari fakta bahwa di Indonesia, hanya 23,5 persen dari total penduduk  Indonesia yang melakukan aktivitas membaca untuk mendapatkan informasi. Ini sangat berbeda dengan jumlah penduduk Indonesia yang memperoleh informasi melalui nonton TV yakni sebanyak 85,9 persen dari total penduduk (BPS, 2006). Selain itu, berdasarkan dari data UNESCO jumlah buku yang diterbitkan di Indonesia hanyalah 9/1.000.000 dari total populasi. Artinya, Indonesia hanya bisa menghasilkan 9 buah judul buku per satu juta penduduk Indonesia.

Paling tidak, data-data tersebut menggambarkan masih rendahnya kesadaran membaca dan menulis masyarakat Indonesia. Gambaran yang paling sederhana terlihat dari pilihan aktivitas masyarakat ketika mengisi waktu luang mereka. Banyak dari mereka tidak memilih membaca. Misalnya, ketika seseorang sedang mengantre di suatu tempat, aktivitas membaca hampir tak tampak. Tak ketinggalan, mahasiswa pun melakukan hal yang sama. Misalnya tidak banyak mahasiswa yang memilih membaca sebagai aktivitas mereka saat waktu luang mereka. Mereka lebih memilih mengobrol hal-hal yang tidak penting atau kegiatan-kegiatan lain yang memuaskan keinginan mereka dari pada kegiatan membaca yang seharusnya dilakukan oleh seorang pelajar.

Padahal, untuk menghasilkan sebuah tulisan atau karya ilmiah membaca merupakan syarat yang harus dipenuhi. Menurut Hernowo (2008) seorang calon penulis harus memiliki keinginan yang kuat untuk membaca. Dengan membaca, pembaca memperoleh banyak informasi tentang topik yang dibacanya.

Hernowo menambahkan, membaca dan menulis memiliki keterkaitan yang sangat erat. Jika kita hanya membaca saja dan setelah itu sama sekali tidak melakukan aktivitas menulis, bisa jadi bacaan yang sudah kita serap tidak akan bertahan lama dalam ingatan kita. Maka, dalam hal ini menulis adalah cara yang paling efektif untuk mengendapkan hasil bacaan kita.

Oleh karena itu, merupakan suatu keharusan untuk menumbuhkan budaya baca tulis di tengah-tengah masyarakat Indonesia.


Solusi

Menumbuhkan budaya baca tulis perlu dukungan dari semua pihak termasuk pemerintah. Jika tidak, ini hanya akan menjadi mimpi.

Membudayakan kebiasaan baca tulis di tengah-tengah masyarakat yang bukan kultur baca tulis akan sangat sulit terwujud jika tidak didukung dengan sumber bacaan memadai. Sebagaimana ditegaskan  Hernowo bahwa membaca dan menulis memiliki kaitan yang sangat erat, maka penyediaan sumber-sumber bacaan yang memadai adalah suatu keharusan.

Pengadaan perpustakaan rakyat merupakan salah satu jalan keluar. Hingga kini, perpustakaan hanya tersedia di daerah perkotaan. Selain itu, kondisi perpustakaan sekolah pun masih memrihatinkan. Masih ada sekolah-sekolah yang tidak memiliki perpustakaan. Kalaupun ada koleksi bukunya sangat terbatas. Jika kondisi ini tak berubah, membudayakan baca tulis hanyalah sebuah mimpi.

Padahal, menurut Abdul Rahman Saleh (2001) untuk mendorong terjadinya suatu proses pembelajaran perpustakaan harus memiliki koleksi yang memadai, fasilitas untuk akses ke informasi global. Selain itu perlu tersedianya SDM yang membantu dalam proses pelacakan informasi. Adalah wajar ketika anak-anak negeri ini tidak dapat menikmati pendidikan sebagaimana layaknya kerena kekurangan-kekurangan sumber-sumber bacaan.

Departemen Pendidikan Nasional lebih sibuk menyoroti masalah Ujian Nasional. Ini sepertinya menjadi agenda utama yang harus dituntaskan. Bahkan, keputusan MA yang telah menolak kasasi Ujian Nasional tidak membuat pemerintah lelah untuk terus memperjuangkan keberlanjutan pelaksanaan Ujian Nasional.

Pemerintah melupakan salah satu elemen penting dalam proses pembelajaran, yakni penyediaan sumber belajar seperti buku. Kalaupun ada hanya seputar kebijakan buku elektronik yang sudah tidak mungkin dapat diakses oleh masyarakat daerah terpencil.

Sebaiknya pemerintah mulai menggalakkan program perpustakaan masuk desa. Mungkin ini kedengaran aneh dan lucu, tetapi jika terlaksana, yakinlah masalah seperti plagiarisme dapat dicegah dan negara akan melahirkan anak-anak negeri yang berintegritas dan dapat dipercaya memimpin negeri keluar dari masalah korupsi yang masih membelenggu. Seperti program Listrik Masuk Desa berhasil menerangi desa-desa di daerah terpencil, yakinlah bahwa perpustakaan masuk desa juga dapat menerangi anak-anak negeri yang terabaikan di pelosok nusantara termasuk di bumi Flobamora tercinta. *

Sumber : http://www.pos-kupang.com/read/artikel/43844

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s