Perpustakaan, Pustakawan dan Masyarakat Kampus


Jika ilmu diumpamakan sebagai darah dalam tubuh kita dan tubuh kita merupakan system perguruan tinggi, maka perpustakaan bagi perguruan tinggi tersebut adalah jantung yang melahirkan ilmu kepada anak didik melalui dosen sebagai pembuluh darahnya. Oleh karena itu bila kita menginginkan perguruan tinggi itu sehat maka janjungnya harus dalam keadaan sehat

Pertanyaan pertama yang muncul sekarang adalah bagaimana peran otak universitas sebagai fungsi leadership yang diharapkan dapat menciptakan pola kehidupan yang dapat menyehatkan fungsi jantung dalam hal ini perpustakaan? Individu maupun kelompok dalam masyarakat kampus yang sebut sebagai civitas akademika (mahasiswa, dosen, karyawan, pimpinan universitas dan jabatan structural lainnya) jangan-jangan tidak mengetahui kondisi riil perpustakaan universitas (perpustakaan pusat, perpustakaan fakultas, dan perpustakaan unit lainnya) dapat berfungsi ideal dalam system organisasi yang besar, dan kini telah berpredikat BHMN.

Pustakawan yang merupakan pejabat fungsional yang berkedudukan sebagai pelaksana penyelenggara tugas utama kepustakaan pada unit-unit perpustakaan, dokumentasi dan informasi pada instansi pemerintah  tidak berlebihan bila dikatakan sebagai tangan kanan dalam penyelenggaraan perpustakaan dalam menghantarkan fungsi dan tujuan perpustakaan universitas, sementara staf teknis dan administrasi pada perpustakaan merupakan tangan kiri sebagai bagian yang silih berganti melaksanakan fungsi-fungsi yang dimiliki. Dengan tiidak mengenyampingkan peran dilakukan oleh staf non fungsional, pustakawan begitu besar dituntut dapat melaksanakan perannya dalam tugas perpustakaan yang meliputi 8 (delapan) poin antara lain; 1) koordinasi perpustakaan pusat, fakultas, pusat studi; 2) membina, mengarahkan SDM perpustakaan dalam pelayanan; 3) publikasi dan promosi perpustakaan; 4) merancang inovasi dan meningkatkan citra perpustakaan; 5) usulan pengadaan prasarana perpustakaan; 6) koordinasi pengelolaan, peningkatan bahan pustaka; 7) membuat laporan berkala .

Peran manajemen atau pimpinan universitas yang oleh Majlis Wali Amanah (MWA) diberi wewenang untuk menyususn rencana strategis lima tahunan sangat dominan dalam mencapai visi dan misi universitas , termasuk didalamnya mendayagunakan perpustakaan sebagai jantung untuk yang melahirkan ilmu melalui dosen sebagai pembuluh darahnya. Ekspresi apa yang telah terwujud dari manajemen universitas dalam mengembangkan perpustakaan dan pustakawan? Apa ada dampak ekpresi itu yang dapat memberikan motivasi untuk menjadikan aliran ilmu pengetahuan berasal dari perpustakaan kepada mahasiswa, sehingga dosen tidak harus mencari sumber ilmu pengetahuan sendiri dengan membeli kebutuhan pustaka atau dari kolega atau perpustakaan lain? Berikut beberapa ilustrasi yang digambarkan dalam berbagai ekspresi dalam manajemen UGM yang terekam dalam berbagai media komunikasi kampus ditinjau dari berbagai isu dan kasus konkrit di UGM.

SEBUAH RENSTRA YANG MENAKJUBKAN
Ada yang sangat menarik untuk dikaji dalam isi Rencana Strategis UGM 2003-2007  dimana dalam poin 4.3.2. disebutkan bahwa dalam sasaran bidang Sistem Informasi Perpustakaan UGM adalah terselenggaranya pelayanan perpustakaan UGM secara efektif dan meningkatnya mutu pelayanan secara berkelanjutan ke taraf in ternasional yang didukung dengan salah satunya adalah meningkatnya alokasi anggaran perpustakaan sampai mencapai minimal sebesar 5 (lima) persen dari anggaran belanja universitas. Merupakan prestasi tersendiri bila dalam aktualisasi alokosi anggaran dapat terealisasi, betapa tidak dalam tahun tahun 2006 saja belanja universitas mencapai Rp 551.686.733.405 (lima ratus lima puluh satu milyar enam ratus delapan puluh enam juta tujuh ratus tiga puluh tiga ribu empat ratus lima rupiah). Orang awam dengan mengenyampingkan terhadap skala prioritas anggaran, karena renstra merupakan landasan awal realisasi anggaran maka akan segera menemukan jumlah anggaran perpustakaan pada tahun 2006 sebesar Rp 27.584.336,670 (dua puluh tujuh milyar lima ratus delapan puluh empat juta tiga ratus tiga puluh ribu enam ratus tujuh puluh rupiah).

Tidak ditemukan dengan pasti berapa angka anggaran penerimaan dan pengeluaran/belajanja pada unit perpustakaan UGM, ini karena sebagian pengeluaran terserap pada pos belanja pegawai yang administrasinya bergabung dengan Kantor Pusat Universitas (KPU), tentu angka-angka pasti akan terilihat dalam RKAT dari Perpustakaan UGM, namun menurut sumber tidak resmi dari staf perpustakaan menyebutkan angka 2,5 % persen dalam realiasi anggaran tersebut.

Untuk sementara kita tinggalkan angka-angka anggaran perpustakaan, karena ada hal lebih penting untuk disimak, apakah dengan adanya peningkatan anggaran perpustakaan para pustakawanan akan meningkat juga kualitasnya? Jawaban akan pertanyaan itu tentu perlu dilakukan sebuah penelitian. Mengapa demikian, karena biasanya sebuah perpustakaan akan kekurangan SDM yang berkualitas, jika ada yang berkualitas banyak yang memilih bidang lain untuk ditekuninya. Faktor lain juga karena kurangnya penghargaan yang diterima oleh pustakawan dari pemerintah terhadap hasil profesionalisme jabatan fungsional perpustakaan. Memang akhir-akhir ada kecenderungan junjangan jabatan fungsional pustakawan semakin diperhatian oleh pemerintah dengan menaiknya tunjangan walaupun belum dirasa signifikan hal ini tentu karena berbagai pertimbangan skala prioritas penganggaran oleh pemerintah. Namun begitu kebijakan tersebut patut direspon dengan baik oleh pustakawan, walaupun belum sebagai stimulan yang begitu konkrit tetapi masih samar, atau bisa juga disebut maya.

PRESTASI DAN EKSPRESI MANAJEMEN
Dari beberapa berita di media lokal dan nasional, dan juga di media kampus beberapa bulan yang lalu dimuat tentang prestasi tertinggi yang dicapai oleh 2 (dua) orang pustakawan UGM dimana keduanya mencapai jabatan sebagai pustakawan utama, dan hal yang menarik ini adalah  juga untuk pertama kalinya di Indonesia melakukan pengukuhan pustakawan utama di kampusnya sendiri. Gelar pustakawan utama merupakan jabatan fungsional tertinggi bagi jabatan pustakawan yang bisa disejajarkan dengan guru besar, guru utama, peneliti utama, dokter utama, maupun widyaiswara utama.

Dalam beberapa berita media kampus sampai saat ini belum ditemukan sebuah apresiasi dari top manajemen universitas dalam menanggapi pencapaian prestasi terbaik kepada para pejabat pustakawan ini. Hal ini terjadi mungkin karena begitu kompleksnya tugas dan kewajiban yang harus dikerjakan sehingga benar-benar tidak dapat menyempatkan melakukan sebuah aksi motivasi walaupun sederhana, tetapi bagi pustakawan sangat berguna dan diharapkan. Kedepan sangat diperlukan sebuah sosok  pimpinan yang punya kepekaan yang tinggi dalam memberikan motivasi bagi stafnya yang berprestasi.  Pustakawan punya keyakinan bahwa dengan  adanya peristiwa pengukuhan pustakawan utama pada 6 September 2007 yang telah dihadiri oleh Kepala Perpusnas RI, Sekretaris Eksekutif, Direktur SDM dan Kepala Perpustakaan UGM   mempunyai nilai yang sangat berarti sebagai motifator penggerak untuk penajaman karya dan pengabdian di dalam perannya untuk ikut andil dalam pencapaian visi dan misi universitas.

MODIS MAHASISWA DALAM SEBUAH REKRUTMEN
Dalam sebuah media masa lokal  memberitakan aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh mahasiswa, salah satu pernyataan yang dilontarkan adalah bawha   UGM kini tidak  lagi bisa disebut sebagai universitas kerakyatan. Benarkah pernyataan seseorang tersebut? Tentu kita tidak bisa mengatakan benar maupun salah dalam pernyataan tersebut mengingat penilaian seseorang selalu dalam pengaruh subyektifitas dan bagaimana cara menganalisanya. Mungkin juga pembuat pernyataan memandang isu ini dalam sisi biaya kuliah termasuk didalamnya biaya dalam sistem perekrutan mahasiswa. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mencari kebenaran pernyataan tersebut, melainkan akan memaparkan bagaimana sebuah sistem perekrutan mahasiswa dapat menghasilkan sebuah komunitas mahasiswa yang berperilaku tertentu sehingga menempatkan institusi perpustakaan tidak sebagai hal yang esensi/penting bagi proses akademiknya.

Dalam beberapa tahun terakhir ini UGM telah mengambil kebijakan yang berkaitan dengan perekrutan mahasiswa, khususnya dalam biaya yang ditanggung oleh seorang mahasiswa yang diterima, baik itu lewat jalur PBUD, UM, maupun SPMB. Berbagai jenis biaya harus ditanggung, misalnya BOP, SPMK, SPP maupun biaya lainnya. Apa dampak dari kebijakan pembiayaan dalam sebuah perekrutan mahasiswa yang dirasakan oleh masyarakat kelas bawah yang merupakan sebuah mayoritas mengatakan ini cukup mahal. Tentu sistem itu akan menghasilkan kominitas mahasiswa yang berprestasi baik tapi juga mahasiswa dengan biaya hidup yang berkecukupan, bahkan anak-anak dari orang kaya, walaupun tidak dipungkiri ada sebagian dari orang miskin dengan peraturan tertentu dapat masuk sebagai mahasiswa, tetapi prosentasenya sangat kecil.
Dominansi mahasiswa yang berkecukupan dan berlatar belakang  orang tua yang kaya tentu akan menciptakan pola aktivitas akademik yang tertentu. Para mahasiswa dalam mengejar prestasinya mempunyai fasilitas individual yang cukup dan memadai seperti alat komunikasi, alat transportasi, kebutuhan makan, tempat tinggal, uang saku, dan bahkan alat-alat media pembelajaran, sampai kepada kebutuhan akan bahan pustaka yang diperlukan. Ketersediaan fasilitas individual yang terakhir ini yang akan mempengaruhi sikap terhadap  peranan dan fungsi perpustakaan dalam melaksanakan studinya.

Jumlah mahasiswa saat ini mulai dari mahasiswa program diploma, sarjana (s-1), program pascasarjana (S-2 dan S-3) lebih dari 35 ribu mahasiswa. Tentu jumlah yang sangat signifikan dalam sebuah perguruan tinggi. Sekarang kira-kira berapa prosenkah dari jumlah mahasiswa telah memanfaatkan pelayanan perpustakaan dalam melakukan aktivitas studinya? Dari berbagai thesis, skripsi atau laporan mungkin akan menunjukkan sebuah angka yang kecil. Tentu penelitian tentang ini perlu dilakukan sebagai input bagi para penentu kebijakan universitas dalam menyusun strategi kebijakan dalam mendayagunakan perpustakaan bagi para mahasiswa dan juga dosen. Kecenderungan ketidakmaksimalan penggunaan layanan perpustakaan ini muncul sebagai akibat dari  salah satu faktor di atas. Betapa tidak, seorang mahasiswa yang mempunyai dana yang cukup untuk memperoleh banyak buku dan referensi lainnya tentu dengan mudah mendapatkan dari berbagai toko buku, dan layanan teknologi informasi lainnya. Alasan lain bagi mahasiswa mungkin dirasa lebih optimal memanfaatkan bahan pustaka milik sendiri daripada meminjam di perpustakaan, juga karena sewaktu-waktu dapat di akses sehingga ada keleluasan waktu. Alasan lain mungkin para dosen lebih mendorong mahasiwa untuk membeli bahan pustakan dari pada meminjam di perpustakaan. Tentu ini bukan hal salah terhadap perlakuan dosen tersebut, karena memang cara memperolah bahan pustakan bagi mahasiswa dari berbagai cara diperbolehkan termasuk menggandakan sendiri dengan mengkopi walaupun yang terakhir ini akan mempengaruhi sikap para penulis buku.

Dengan berbagai ilustrasi tersebut bagaimana para pustakawan melakukan refleksi terhadap fenomena itu? Para pustakawan tentu telah menyadari akan tugas dan fungsinya sebagai seorang yang profesional. Ini semua akan kembali kepada idealisme seorang pustakawan dalam menjalankan fungsinya. Kalau sudah berbicara idealisme, tentu hal ini tidak akan pernah ada yang namanya idealisme yang konkrit, mungkin yang ada hanya semi konkrit bahkan akan cenderung maya. Betapa tidak, para pustakawan mempunyai latar belakang kehidupan yang berbeda satu sama lain yang dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal maupun internal  walaupun   para pustakawan telah mempunyai semacam kode etik yang mereka kesepakati dalam forum yang sudah tertata. Sorang pustakawan bekerja juga sangat dipengaruhi dari salah satu faktor eksternal yang berupa motivasi, baik itu stimulan material maupun imaterial. Hal-hal inilah yang akan memunculkan beberapa pertanyaan, seperti; sudahkan para pemegang manajemen universitas telah melakukan berbagai motivasi terhadap pustakawan dengan misalnya menambah insentif yang  memadahi? Sudahkan ada berbagai penghargaan terhadap kerja dan prestasi mereka? Sudah layakkah fasilitas dari mulai gedung, sarana teknologi informasi, bahan dan koleksi dan lainnya sebagai sarana pelayanan telah memadai? Sudah dikembangkankan potensi  sumber daya manusianya yang ada di perpustakaan? Pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan pengembangan perpustakaan akan terus ada karena karakter manajemen universitas berpengaruh pada pengembangan perpustakaan.

KEMASAN BARU DALAM MENGUNDANG ORANG
Mahasiswa dan masyarakat kampus lainnya mungkin tidak banyak tahu kalau dalam sebuah perpustakaan dilaksanakan sebuah kegiatan yang dapat mengundang banyak orang untuk tidak hanya untuk membaca dan atau meminjam buku, seperti pernah dilakukan Perpustakaan UGM pada tanggal 16 Juni 2007 dengan mengadakan sebuah acara bedah buku  dengan tema dan isu yang sangat aktual pada saat itu yaitu ‘bedah buku IPDN Undercover’ .

Kegiatan ini patut diberi apresiasi yang hangat, kerena sebuah isu baru dan perlunya metode penyelesaian. Betapa tidak, sebuah integrasi dalam sebuah isu konflik yang melibatkan akademisi di sebuah perguruan tinggi dengan struktur dibawah binaan departemen dalam negeri dengan sebuat forum ilmiah dengan menyajian sebuah informasi yang benar dengan ulasan para intelektual.

Apa yang harus dimaknai oleh para pustakawan dengan adanya kegiatan yang dilakukan oleh sebuah perpustakaan bisa menangkap berbagai isu dengan mengemas dalam suatu forum yang pas dan tepat?. Tentu ini sebuah terobosan baru guna meningkatkan citra perpustakaan dalam menjalankan fungsinya. Dengan demikian perpustakaan dapat melebarkan sayapnya. Contoh riil terobosan ini tentunya harus menjadikan para pustakan dapat mendapat pelajaran yang berarti bahwa dunia perpustakaan bukan bidang sempit, tetapi dinamis dan itu harus menjadi sebuah motivasi bagi para pustakawan untuk lebih berkembang. Penguasaan berbagai ilmu dan pengetahuan yang dimiliki oleh perpustakaan harus diaktualisasikan dalam bidang-bidang yang sempit, tetapi harus dapat mengikuti arus perkembangan jaman, itu kalau perpustakan dan pustakawan tidak ditinggalkan oleh masyarakatnya.

One thought on “Perpustakaan, Pustakawan dan Masyarakat Kampus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s